Foto Dendeng Babi Produk Aceh Besar Resahkan Warga, Pemerintah Aceh Minta Polisi Mengusut

BANDA ACEH – Dua hari lalu, masyarakat Aceh dihebohkan dengan peredaran foto dendeng babi dalam kemasan yang diklaim diproduksi di Banda Aceh.

Pasalnya, dendeng yang dipacking dalam plastic transparan itu diberi merek “Dendeng Babi Cap Kelinci Aguan”.
Yang bikin heboh, di bawah merek itu tertulis “Jl. Malayahati Km 14,5 Banda Aceh”.Para warganet menilai tulisan itu menunjukkan bahwa dendeng babi itu diproduksi di Jalan Malahayati, Banda Aceh.
Namun, ada keanehan dengan alamat ini.
Karena Jalan Malahayati Km 14,5 ini masuk dalam wilayah Aceh Besar, bukan Banda Aceh.
Merespon keresahan warga ini, pihak kepolisian langsung turun ke lokasi, melakukan pengecekan.
Tapi ternyata polisi tidak menemukan aktivitas produksi dendeng babi di lokasi alamat yang tertera dalam kemasan Dendeng Babi Cap Kelinci Aguan.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH, kepada Serambinews.com, Rabu (14/8/2019) mengatakan, terkait isu yang beredar di medsos ada produksi dan penjualan dendeng babi di satu gampong dalam Kecamatan Mesjid Raya itu sama sekali tidak benar.

“Kebetulan anggota saya, yakni Kapolsek Krueng Raya, Iptu Ading S, beserta Muspika Mesjid Raya langsung turun ke lokasi begitu menapat informasi itu melalui media sosial. Mereka sudah melakukan pengecekan langsung ke desa setempat yang beredar di dalam media sosial itu. Ternyata sudah tidak ada lagi di sana,”  kata Kombes Trisno.

Sebelumnya, kata Kombes Trisno, di dalam laporan Kapolsek Krueng Raya yang disampaikan kepadanya itu memang pernah ada yang memproduksi dendeng babi dan menjualnya dalam kemasan yang diberi label ‘Dendeng Babi Cap Dua Kelinci Aguan’.

Tapi, lanjut mantan Kabag Binkar Biro SDM Polda Aceh itu sudah lama sekali di tahun 80-an.

Lalu sejak akhir tahun 2000 Aguan tidak memproduksi lagi dan yang bersangkutan  pindah ke Medan, Sumatera Utara mengingat kondisi Aceh pada saat itu sedang tidak aman dan tengah dilanda konflik.

“Sekarang Aguan yang warga Tionghoa itu tinggal di Medan dengan alamat Jalan Metal Perwira 1 Tanjung Mulia yang merupakan kompleks Warga Tionghoa yang eksodus dari Aceh karena konflik,” sebut mantan Kapolres Aceh Tenggara itu.

Sikap Pemerintah Aceh

Sementara itu, Humas Pemerintah Aceh dalam rilis terbaru kepada media dan dikirim ke email Serambinews.com, Jumat (16/8/2019), meminta polisi mengusut temuan asal Dendeng Babi  Cap Kelinci Aguan yang seolah-olah diproduksi di Jalan Malahayati Km.14,5 Aceh Besar.

Informasi ini dinilai telah membuat resah masyarakat yang tinggal di kawasan itu.

“Padahal, dari hasil investigasi Satpol PP-WH Aceh tidak ditemukan kegiatan produksi dendeng babi di Jalan Malahayati Km.14,5 dan sekitarnya,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, Kamis (15/8/2019) dalam rilis itu.

Pria yang akrab disapa SAG ini mengatakan, Pemerintah Aceh melalui Biro Hukum Setda Aceh telah membuat laporan kepada Diskrimsus Polda Aceh untuk mengusut asal usul dendeng tersebut.

SAG mengatakan, Aguan, nama yang ditulis sebagai orang yang diduga pemilik produk itu memang pernah tinggal di daerah tersebut.

Namun, pengakuan dari keluarga Aguan kepada Satpol PP-WH Aceh, yang bersangkutan telah tujuh tahun pergi tanpa kabar.

Artinya tidak mungkin Aguan memproduksi dendeng babi di lokasi yang berada di kawasan Gampong Neuhen Kecamatan Krueng Raya Aceh Besar.

Aguan disebut pindah ke Sumatra Utara dan tidak ada kontak dengan keluarganya di Aceh.

“Gara-gara informasi itu, keluarga Aguan merasa terancam. Sedangkan mereka sehari-hari bekerja sebagai petani tambak dan berjualan kelontong,” kata SAG.

Pemerintah Aceh meminta supaya masyarakat yang berasal di sekitar Km 14,5 tidak resah dan memberikan kesempatan kepada pihak kepolisian melakukan pengusutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please disable your adblock for read our content.
Refresh